Wonderful Life

Walau hanya sahabat, Senin itu kita tertawa bahagia berdua. Tanpa satupun masalah yang kita pikirkan. “Hidup ini indah”, kata Deo. “Indah?” aku balik bertanya, melihat ke arahnya dengan nada heran.

“Iya, indah.. Angin berhembus pelan, kita duduk di bangku di bawah pohon rindang, dan aku bisa menggenggam tanganmu.. Bukankah hidup ini indah?”

Aku melihat Deo memejamkan mata, wajahnya tampak damai. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi aku merasakan genggaman tanggannya menguat. Aku merasakan mukaku memanas, perasaanku sangat bahagia. Mungkinkah ini terjadi?

“Ya.. Hidup ini indah.. Hanya denganmu ada di sisiku.. Hidupku menjadi indah..”

Dia menoleh terkejut ke arahku, dan seketika mukanya menjadi merah. Saat itu pula aku mengerti maksud ucapannya.. Hal yang selama ini hanya menjadi dambaanku menjadi nyata, hal yang selama ini hanya aku simpan rapat – rapat dalam hatiku muncul ke permukaan..

Kami saling mencintai satu sama lain. Kami sepasang sahabat yang sudah lama terus bersama ternyata saling merasakan suatu hal yang lain dalam diri sahabat kami. Dia tersenyum kepadaku dan aku pun membals senyumanku padanya.

Terputar kembali memori kami saat kami pertama kali bertemu, berkenalan untuk pertama kali, curhatan pertama kami, saat pertama kali aku mendengar dia mempunyai pacar, saat air mata pertamaku tumpah di hadapannya, saat pertama dia putus dan memutuskan untuk menjomblo seumur hidupnya.

Dan juga saat, aku menyadari bahwa aku menganggapnya lebih dari seorang sahabat..

Aku melihat ke matanya, aku melihat adanya pancaran kebahagiaan akan penantian yang telah usai aku pun juga memancarkan kebahagiaan yang sama.

Senin itu, kami tertawa bahagia. Bukan sebagai sahabat lagi, tapi sebagai sepasang kekasih yang telah lama menanti untuk dipersatukan takdir..

Posted in Uncategorized | 2 Comments

First time

Dia adalah orang yang paling aku sayangi dalam hidupku, tapi tak pernah terbayangkan bahwa dia adalah orang yang menyakiti hatiku paling lama.

Saat pertama aku melihatnya, dia hanyalah seorang bocah yang bahkan tak pernah kuperhitungkan dalam kriteria pacarku. Kami pernah bertengkar hebat karena masalah sepele dan aku bersumpah akan membencinya seumur hidupku. Tapi, setelah pertengkaran itu kami mulai menyadari kebodohan kami sendiri. Akhirnya kami memutuskan untuk berteman baik.

Hari demi hari berlalu, rasa sayangku padanya mulai tumbuh tak terkendali. Awalnya aku menyayanginya seperti aku menyayangi saudariku sendiri, tapi apalah daya ketika rasa sayangku menjadi perasaan cinta padanya.

Tetapi hal ini tentu saja aku kunci rapat – rapat di dalam hatiku karena aku tak mau hal ini bisa menghancurkan persahabatan kami. Tapi ketika kunci hati ini terlepas aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya. Tanpa keraguan, aku menatap lurus ke matanya dan menyatakan perasaanku.

Aku cemas menunggu jawabannya, aku yakin dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Dia juga tak mempunyai pacar ataupun orang yang disukainya, kalaupun ada pasti aku mengetahuinya. Tapi aku tak mendapat jawaban yang aku mau.

Dia menggeleng lemah dan meminta maaf karena dia tidak mempunyai perasaan yang sama denganku, selama ini dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat dan tidak lebih. Seharusnya aku meneteskan air mata dan berteriak kenapa dia tega melakukan hal ini padaku, kenpa dia tega mengikatku dan memberiku harapan palsu.

Tapi dia mengulangi permintaan maafnya berkali – kali sambil memandang ke bawah, aku sadari setiap kata maaf yang dia ucapkan semakin lama suaranya semakin samar seperti orang yang menangis. Aku tak tega melihatnya, lalu akupun memeluknya hangat. Tapi bukan pelukan yang dilakukan seorang kekasih, tapi pelukan seorang kakak terhadap adik perempuannya. Aku katakan tak apa, padahal hatiku sakit. Aku katakan aku baik – baik saja, tapi hatiku sudah hancur. Aku katakan aku menghargai jawabanmu, tapi aku ingin memakinya karena ini.

Aku mengangkat wajahnya untuk melihat matanya yang sembab dan mukanya yang merah dan aku mencium pipinya dan memeluknya lagi untuk yang terakhir kalinya. Saat melihat wajahnya aku tidak bisa mengatakan apa – apa lagi. Mungkin dia memang bukan jodohku. Aku pun melepasnya dari pelukanku dan meminta maaf padanya serta menyuruhnya agar cepat pulang. Saat dia berbalik untuk pergi aku masih memandangi belakang badannya, setelah itu aku juga membalikkan badanku dan berjalan sambil meneteskan air mata.

Bertahun- tahun setelah itu, cinta datang dan pergi. Tapi hanya dia yang masih berdiam di hatiku. Menyakiti hatiku setiap aku ingat kenangan seberapa besar aku mencintainya..

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment